
Peristiwa tragis ini menciptakan pihak keluarga pemilik kuburan menangis histeris dikala proses pembongkaran. Diketahui, dua kuburan yang dibongkar yaitu makam pasangan suami istri berjulukan Masri Dunggio dan Siti Aisah Hamsah.
Awano murka alasannya yaitu keluarga almarhum Masri dan Siti, tidak menentukan saudaranya yang maju sebagai caleg DPRD Kabupaten Bone Bolango dari Partai Nasdem.
Nahdlatul Ulama mengecem insiden pemindahan dua mayit gara-gara perbedaan pilihan politik dalam pemilu di Gorontalo.
Keluarga mayit berbeda pilihan calon anggota legislatif atau caleg dengan pemilik lahan permakaman meski mereka bahwasanya masih berkerabat.
Menurut Ketua Pengurus Besar NU, Robikin Emhas, kabar memilukan itu mengoyak rasa kemanusiaan. Politik, katanya, yang semestinya sanggup menjadi sarana untuk meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan malahan sebaliknya.
“Justru mematikan rasa kemanusiaan itu sendiri,” kata Robikin Emhas, Minggu (13/1/2019).
Mereka yang bersengketa atau menjadi tak akur hanya alasannya yaitu berbeda pilihan politik, berdasarkan Robikin, ditengarai memahami politik hanya sebagai sarana mendapat kekuasaan, tidak penting bagaimana cara meraihnya.
Kecenderungan memakai segala cara untuk politik itu tak hanya terjadi pada pemilihan caleg, sebagaimana kasus pemindahan mayit ke kuburan lain di Gorontalo.
Kecenderungan serupa juga terjadi dalam pemilu presiden, di antaranya politisasi agama, penggunaan kabar bohon atau hoax sebagai mesin elektoral.
“Seakan tak peduli imbas yang ditimbulkan, relasi kekerabatan pecah, persahabatan retak, tetangga dikategorikan sebagai lawan. Semua disandarkan satu hal: kesamaan pilihan politik,” bebernya dikutib Viva, Minggu (13/1/20190
Sebagai pesta demokrasi, ia mengingatkan, pemilu seharusnya menjadi kegembiraan nasional; layaknya pesta yang tak perlu ada satu pun gelas pecah. Dia berharap insiden semacam itu tak terulang lagi. “Toh, politik yaitu sarana pemanusiaan manusia,” katanya.
Pembongkaran dan pemindahan dua makam di Dusun II, Desa Toto Selatan, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, disorot masyarakat luas. Dua kuburan itu dibongkar alasannya yaitu keluarga mendiang dan keluarga pemilik lahan permakaman berbeda pilihan caleg.
Makam yang dipindahkan yaitu kuburan Masri Dunggio, sudah 26 tahun dimakamkan di sana; dan Siti Aisyah Hamsah, cucu Masri, yang dimakamkan setahun lalu. Si pemilik lahan permakaman berjulukan Awono, sepupu Masri. [Rakyatku.com]
Share This :
comment 0 komentar
more_vert