INI SERUAN LANGSUNG MUSLIM UIGHUR BUAT INDONESIA
Demikian impian para pengungsi Uighur ketika ditemui Jurnalis Islam Bersatu (JITU) di Turki, simpulan September.
Saat ditemui, kondisi mereka sangat memperihatinkan. Amin (bukan nama sebenarnya) yang berencana hijrah ke Suriah bersama keluarganya, mengaku terpaksa keluar dari kampung halamannya sebab tidak tahan kezhaliman yang dilakukan pemerintah Cina.
“Kami tidak ada pilihan. Di Cina kami disiksa, ulama kami dibunuh, dan kami dihentikan mendirikan sekolah,” ujar Amin bersama istri dan satu anaknya berjulukan Muslimah (4 tahun).
Amin membuktikan Muslim Uighur tidak dapat menjalankan anutan Islam sepenuhnya di Cina. “Bahkan untuk memelihara jenggot saja kami dipenjara,” katanya yang membuktikan ada ribuan Ulama Uighur dipenjara oleh pemerintah Cina.
JITU pun mengkonfirmasi isu bahwa muslim Uighur dipaksa untuk berbuka puasa oleh pemerintah Cina. Amin pun membenarkannya. Berita itu, katanya, bukanlah isapan jempol semata. “Berita itu benar adanya. Kami dipaksa untuk berbuka puasa di bulan Ramadhan,” ungkapnya prihatin.
Saat ditanya, apakah Muslim Uighur mempunyai situs khusus supaya media-media di Indonesia dapat mengakses penderitaan Muslim Uighur, Amin menjelaskan bahwa pemerintah Tiongkok melarang mereka melaksanakan itu.
“Banyak dari kami takut berbicara ke dunia, sebab pemerintah memenjara kami,” terangnya.
“Karena itu, seluruh saluran informasi ditutup rapat-rapat oleh pemerintah Cina,” tambahnya.
Hal senada juga dikatakan Abdullah. Remaja berusia 18 tahun ini menentukan keluar belakang layar dari kampung halamannya untuk hijrah ke Suriah. Bukan hal gampang bagi Abdullah untuk keluar dari negerinya. Sebab kalau pemerintah Tiongkok tahu dirinya akan pergi ke Suriah, niscaya akan ditangkap.
Abdullah memaparkan nestapa muslimah Uighur ketika melahirkan. Tidak sedikit dari para muslimah tersebut harus berpisah dengan anaknya sebab arogansi pemerintah Tiongkok.
“Saat mereka lahir, bayi mereka diambil oleh pemerintah,” terangnya dengan bahasa Arab yang cukup fasih.
Intoleransi pemerintah untuk menghambat regenarasi umat Islam tidak berhenti di sana. Abdullah membuktikan meski usianya sudah 18 tahun tapi beliau belum pernah mencicipi sekolah agama formal.
Intoleransi Pemerintah Cina kepada generasi muslim pun menciptakan Abdullah tidak dapat meraih pendidikan agama di daerahnya.
“Di Provinsi Xinjiang, pemerintah melarang umat Islam untuk mendirikan madrasah,” tandas Abdullah yang membuktikan sebutan Xinjiang ialah bentuk stereotype pemerintah Cina.
Umat Islam di Provinsi Xinjiang lebih suka disebut Muslim Uighur.
BERHARAP PERAN INDONESIA
Amin berharap Indonesia sebagai negara lebih banyak didominasi muslim dapat peduli terhadap nasib saudaranya di Uighur. Sebab muslim Uighur sudah tidak tahan dengan kekerasan yang dilakukan pemerintah Cina.
“Kami berharap supaya muslim Indonesia selalu memberitakan kondisi kami. Ada ribuan ulama kami yang kini di penjara oleh pemerintah Cina. Mereka disiksa dan dibunuh. Kami minta muslim Indonesia mendoakan kami,” ujarnya
[Video - Penuturan Anak Muslim Uighur]
Sumber http://www.portal-islam.idSekarang yg lebih diharapkan doa dan dukungan dulu buat orang bau tanah adik ini— Arie untung (@ArieKuntung) 21 Desember 2018
Semoga para penggiat ham di sosmed ini ikut membantu bersuara pic.twitter.com/QudIL20R3j
Share This :

comment 0 komentar
more_vert