Aksi Perlawanan Dari Madura

Aksi Perlawanan Dari Madura
Kalau soal nyali dan konsistensi, orang Madura tak ada duanya. Silakan seluruh dunia setuju warna daun itu hijau, reng Madure akan tetap pada pendiriannya. Warnanya biru daun. 

Cobalah berkeliling seluruh Madura, dan iseng bertanya. Anda tidak akan menemukan daun berwarna hijau. Semuanya biru. Ha…ha…ha….

Itulah kultur khas Madura, unik, keras dan tegas. Mereka juga berani tampil beda. Tidak peduli apa kata dunia. Sikap itu juga terus berlanjut kepada generasi mudanya. Generasi digital (milenial dan iGeneration) Madura, sikapnya tetap sama. 

Pembawa program meminta hadirin meneriakkan “Jokowi Pole” (sekali lagi). Anak-anak muda yang hadir menjawab dengan teriakkan, “Jokowi Mole,” (Jokowi pulang-lah). Makin keras pembawa program meneriakkan “Jokowi Pole,” makin keras pula mereka membalas dengan teriakan “Jokowi Mole” disertai salam dua jari.

Video agresi para dewasa Madura ini sedang viral. Media-media online mengangkatnya sebagai berita. Sejumlah dewasa yang mengenakan kaos pasangan Jokowi-Ma’ruf, terlihat tertawa-tawa mengacungkan salam dua jari. Salah seorang dari mereka merekamnya dan memberi narasi, layaknya seorang wartawan yang sedang memberikan laporan pandangan mata.



Usut punya usut, kejadian tersebut terjadi Rabu (19/12) di Balai Pertemuan Ratu Ebo, Bangkalan Madura. Saat itu Jokowi menghadiri kampaye deklarasi tunjangan ulama Madura untuk pasangan Jokowi-Ma’ruf. 

Bagi yang tak kenal kultur Madura, fenomena ini sangat mengejutkan. Aksi ini jauh lebih berani dari agresi “Uji Nyali wefie salam dua jari bersama Jokowi” yang sekarang tengah ngetrend di kalangan generasi digital. 

Bagi Anda yang rajin mengamati media sosial, agresi semacam ini sangat gampang ditemukan bertebaran, di platform pertemanan, maupun situs menyebarkan video youtube. Sejumlah dewasa tertawa dengan riang bangga foto bersama (wefie) Presiden Jokowi sambil mengacungkan salam dua jari. 

Inilah sebuah pembangkangan sosial dalam diam. Hanya simbol. Perlawanan tanpa kekerasan. Sementara di Madura, perlawanan kekerasan itu dilakukan dilakukan secara frontal. 

Sesuai karakternya, pembangkangan sosial (social disobedience) generasi digital ala Madura, unik, lucu, lugas, tampil beda, dan berani. Dua jari ialah salam kebangsaan paslon Prabowo-Sandi lawan Jokowi-Ma’ruf.

Dilakukan di sebuah program yang dihadiri oleh Jokowi dan para ulama, terang merupakan sebuah perlawanan terbuka. Tanda-tanda arus perubahan telah menjelma sebuah gelombang.

Perlawanan meluas

Aksi para dewasa Madura ini memberikan perlawanan/pembangkangan terhadap Jokowi sudah meluas, hingga ke aneka macam pelosok negeri. Khusus untuk Madura, menjadi sebuah pukulan keras dan telak. Jawa Timur, khususnya Madura menjadi salah satu medan pertempuran utama yang sekarang tengah menjadi pertaruhan Jokowi.

Jangan hanya dilihat Madura sebagai pulau. Namun yang jauh lebih penting ialah Madura sebagai etnis. Mereka dikenal sangat solid dan militan. Selain di Pulau Madura, etnis Madura banyak bertebaran di penjuru Tanah Air. 

Di Jatim mereka banyak tersebar di Kota Surabaya dan daerah tapal kuda (Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi). Sub kultur Madura perantauan (Pendalungan). Total etnis Madura diperkirakan mencapai 20 juta jiwa.

Berbagai cara dilakukan untuk menaklukkan Madura. Mulai dari penggratisan jembatan tol Suramadu, hingga tantangan La Nyalla Mattalitti yang berani potong leher, bila hingga Jokowi-Ma’ruf kalah di Madura.

Jokowi dan timnya bekerja keras bergerilya di pulau garam ini. Salah satunya mencoba mendekati dan melaksanakan perundingan dengan mantan Bupati Bangkalan Fuad Amin Imron yang sekarang tengah berada di penjara Sukamiskin, Bandung. Kendati berada di penjara, efek Fuad Amin tak surut.

Indikasi pendekatan kepada Fuad Amin terlihat dengan hadirnya istri, anak, dan menantu Fuad Amin pada deklarasi tunjangan di gedung Ratu Ebo 

Untuk program deklarasi, Jokowi menurunkan full team. Mulai dari La Nyalla Mattalitti, hingga putri alharhum Gus Dur Yenny Wahid. Dalam permintaan yang disebar, foto Gus Dur bahkan ditampilkan. 

La Nyalla menjanjikan akan ada 1.000 ulama yang hadir. Namun dikala program berlangsung, hanya belasan kiai yang hadir. Sejumlah kiai yang namanya ditampilkan dalam undangan, tidak hadir. Mereka mengaku namanya dicatut.

Untuk memberikan kepada Jokowi besarnya tunjangan di Madura, panitia terpaksa melaksanakan mobilisasi massa. Termasuk diantaranya ialah para dewasa yang mengenakan kaos Jokowi-Ma’ruf, namun malah mengacungkan salam dua jari sambil berteriak “Jokowi Mole.”

Fenomena di Madura semakin memberikan gejala menguatnya perlawanan dan melemahnya aura pesona Jokowi. Sebelumnya pertemuan Jokowi dengan relawan di Banda Aceh dibatalkan. Peserta yang hadir sangat sedikit. Padahal Jokowi membawa oleh-oleh yang diperlukan sanggup meluluhkan hati masyarakat Aceh. Jokowi meresmikan ground breaking, jalan tol Banda Aceh-Sigli. Di Madura Jokowi juga membawa oleh-oleh berupa ribuan akta yang dibagikan ke masyarakat. 

Bukan hanya dewasa yang sepertinya sabung berani dalam permainan (game) “Uji Nyali Salam Dua Jari Bersama Jokowi.” Saat ini sedang viral seorang istri seorang profesor di Semarang, Jateng yang memasang Baliho Prabowo-Sandi dalam ukuran besar di halaman rumahnya. Si Ibu berjulukan Habibah ini bangun di pinggir jalan dan kepada semua pengendara yang lewat, beliau mengacung-acungkan salam dua jari.

Aksi ini dipicu kemarahan sang Ibu alasannya ialah petugas Satpol PP mencopot spanduk Prabowo-Sandi yang dipasang di pagar rumahnya. Dia sudah mengadu ke KPU dan Bawaslu, namun tak digubris. (Baca tautan beritanya)

Sejarah mengajarkan kepada kita, pembangkangan sipil (civil disobedience) di aneka macam pecahan dunia, terjadi alasannya ialah perlakuan yang tidak adil. Hukum berpihak kepada penguasa. Tajam ke bawah, tumpul ke atas.

Pembangkangan dan perlawanan ini harus dilihat sebagai protes atas praktik pemerintahan Jokowi. Banyak pengamat abnormal yang menyatakan Jokowi anti demokrasi dan otoriter. Dalam konteks Pilpres 2019 merupakan alarm tanda bahaya. Waktunya sudah tiba. Wis wayahe Pak De. end

Oleh : Hersubeno Arief.


sumber hersubenoarief.com
Share This :